II.
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Berdirinya Dinasti
Abbasiyah
Khilafah Abbasiyah merupakan
kelanjutan dari khilafah Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah
keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah al-Saffah ibn
Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Dimana pola pemerintahan yang
diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dam budaya.
Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan
melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah.
Dinamakan khilafah Abbasiyah karena
para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi
Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad
ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abass. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu
yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini
berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan
perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan
dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas
menjadi lima periode:
1. Periode
Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2. Periode
Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh Turki pertama
3. Periode
Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam
pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia
kedua
4. Periode
Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam
pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh
Turki kedua
5. Periode
Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti
lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Pada periode pertama pemerintahan
Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul
tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di
sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga
berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan
dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai
menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus
berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat,
yaitu dari tahun 750-754 M. karena itu, pembina sebenarnya dari daulat
Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M). Dia dengan keras menghadapi
lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa
dikucilkan dari kekusaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar
yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah
bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk
sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir, karena tidak
bersedia membaiatnya, dibunuh oleh Abu Muslim al- Khurasani atas perintah Abu
Ja’far. Abu Muslim sendiri karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya,
dihukum mati pada tahun 755 M 2. Pada mulanya ibu kota negara adalah
al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga
stabilitas negara yang baru berdiri itu, al- Mansyur memindahkan ibu kota
negara ke kota yang baru dibangunnya, Bagdad, dekat bekas ibu kota Persia, Clesiphon,
tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di
tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al- Manshur melakukan
konsolidasi dan Penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal
untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang
pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai
koordinator departemen, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak,
berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara,
sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan
bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga
kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah
ditingkatkan perananya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk
mengantar surat.
Pada masa al-Manshur, jawatan pos
ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga
administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos
bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur
berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri
dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Diantara
usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia,
wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya
melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Di pihak lain, dia
berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M,
Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan
pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain
Oksus dan India.
2.2 Masa Keemasan Dinasti Abbasyiah
di Bagdad
Pada
masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, Arab Islam mencapai masa
keemasannya. Kota Baghdad didirikan oleh khalifah Abbasiyah ke dua, al-Mansur
pada tahun 145/762M, terletak di sisi barat sungai Tigris berdekatan dengan
Mada’in, sebuah kota babilonia zaman kuno. Pada mulanya kota Baghdad oleh
khalifah Abbasiyah ini dinamakan sebagai dar al-salam (kota perdamaian).Ia
merupakan kota yang berbentuk melingkar, yang merupakan peninggalan dinasti
sasaniyah, yang dilindungi dengan benteng-benteng tebal dengan empat buah pintu
gerbang menuju empat penjuru utama yang menuju kea rah Basrah,Syria,Kufah dan
Kharasan.
Kota ini terletak pada jalur utama
perhubungan Persia dan India, dan ia merupakan pusat peradabandan politik Islam
diwilayah Barat. Keagungan kota ini sebagaimana tercermin dalam rangkaian kisah
cerita “Seribu Satu Malam”, sebuah kisah legendaries bangsa Arab yang terwujud
pada zaman keemasan Abbasiyah dalam pemerintahan Harun al-Rasyid.
Kota Baghdad di kenal sebagai pusat
peradaban dan kebangkitan Ilmu pengetahuan dalam Islam, merupakan kota
Intelektual di antara kota-kota di dunia, Baghdad merupakan Profesor masyarakat
Islam. Selama kota Baghdad di pimpin oleh khalifah al-Manshur, kota ini menjadi
lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan
Kebudayaan Islam banyak para ilmuawan dari berbagai daerah kekota ini untuk
memahami ilmu pengetahuan yang ingin di tuntutnya. Berikut bukti-bukti masa
keemasan Abbasyiah di Bagdad:
1.2.1
Ilmu Pengetahuan dan Sastra
Ilmu pengetahuan dan sastra
berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat dihidupkan kembali dan di
trejemakan ke dalam bahasa Arab. Khalifa al –Makmun memiliki Perpustakaan yang
di penuhi oleh beribu-ribu buku ilmu pengetahuan, yang diberinama perpustakaan
Bait al-Hikmah. Dan disamping itu, banyak berdiri akademik, sekolah tinggi dan
sekolah biasa yang memenuhi kota ini, dua diantaranya adalah Perguruan
Nizhamiyyah yang didirikan oleh Nizham al- Mustanshiririyah yang didirikan dua
abad, kemudian oleh khalifah al- Mustanshir Billah.
Dalam bidang sastra, kota
Baghdad terkenal dengan hasil karya yang indah dan digemari orang. Di kota
Baghdad ini lahir dan muncul para saintis, ulama,filosof, dan sastrawan Islam
yang terkenal,seperti:
a. Zakaria
al-Razi (865-925 M)
Al-Razi terkenal dengan Razhes
(bahasa latin). Beliau adalah ahli kedokteran klinis, dan penerus Ibn Hayyan
dalam pengembangan ilmu kimia. Ia melakukan penelitian empiris dengan
mengunakan peralatan yang lebih canggih disbanding dengan kegiatan ilmiah
sebelumnya dan mencatat setiap perlakuan kimiawi dikenakannya terhadap
bahan-bahan yang ditelitinya serta hasilnya.
b. Al-Farabi
(870-950 M)
Al-Farabi dikenal di Barat dengan
sebutan Alpharabius. Dia adalah filosof yang juga ahli dalam bidang logika,
matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, Al-Farabi menulis kitab
al-Musiqa. Kitab-kitab yang ditulisnya begitu banyakdan sebagian masih dapat
dibaca hingga sekarang ini.
c. Al-Biruni
(973-1048 M)
Al-Biruni adalah Ibnu Raian Muhammad
al-Biruni. Ia tinggal di istana Mahmud di Gazni (Afganistan). Akbar S.Ahmed
menjulukinya dengan gelar Ahli Antropologi pertama (Bapak Antropologi).
Argumentasinya karena ia adalah seorang observer partisipan yang luas tentang
masyarakat “asing” dan berupaya mempelajari naskah primer dan pembahasannya. Di
samping sebagai antropolog, al-Biruni juga ahli matematika, astronomi dan
sejarah.
d. Ibnu
Sina (980-1037 M)
Nama latin Ibn Sina adalah Avicanna,
beliau adalah ahli ilmu kedokteran dan filsafat. Karya besarnya dalam bidang
kedokteran adalah al-Qanun fi al-Thib. Buku ini selama lima abad menjadi buku
pegangan di universitas-universitas di Eropa. Selain itu, beliau juga memiliki
karya iliah pada bidang logika, matematika, astronomi, fisika, mineralogy,
ekonomi,dan politik.
e. Umar
Khayam (1038-1148 M)
Umar Kahyam adalah ahli astronomi,
kedokteran, fisika, dan sebagian besar karyanya dalam bidang matematika. Akan
tetapi, beliau lebih dikenal sebagai penyair dan sufi. Beliau adalah penemu
koefesien-koefesien binomial dan memecahkan persamaan-persamaan kubus.
Kota Bghdad yang terletak
ditepi barat sungai Tigris itu muncul sebagai kota yang terindah dan termegah
di dunia pada waktu itu. Kota yang memperlihatkan pemandangan yang elok
mempersona, yang sebelumnya di hancurkan oleh Tentara mongol. Semua
kemegahan,keindahan, dan kehebatan kota Baghdad yang di bangun pertama kali
oleh khalifah al-manshur itu sekarang hanya tinggal kenangan. Semuanya
seolah-olah hanyut di bawa arus sungai Tigris, setelah kota ini dibumi aguskan
oleh tentara mongol dibawah pimpinan Hulagukhan. Semua bangunan kota, termasuk
istana emas tersebut di hancurkan. Pasukan mongol juga meruntuhkan Perpustakaan
yang merupakan gudang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat di dalamnya.
2.2.2
Metode Pendidikan dan Pengajaran
Ada beberapa faktor yang
menjadikan zaman Abbasiyah menjadikannya zaman keemasan dalam bidang ilmu
pengetahuan, diantaranya:
a. Perhatian
pemerintah yang besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan
b. Strategi
kebudayaan rasionalisme (kebebasan berpikir) di kalangan umat Islam
c. Kemakmuran
dan ekonomi yang baik
d. Stabilitas
politik
e. Motivasi
ajaran agama Islam
f. Pandangan
yang tepat terhadap ilmu pengetahuan
Selain itu, dalam proses
belajar mengajar metode pendidikan/pengajaran merupakan salah satu aspek
pendidikan yang sangat penting guna mentransfer ilmu pengetahuan dan
keterampilan dari seorang guru terhadap siswanya. Pada masa Abbasiyah ini
metode yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu: lisan,
hafalan dan tulisan.
a. Metode
Lisan berupa dikte, seramah, qira’ah dan diskusi. Metode dikte dianggap
pentingdan aman karena pada masa klasik buku-buku dicetak tidak seperti
sekarang
b. Metode
menghafal merupakan ciri umum pendidikan pada masa ini. Murid-murid harus
membaca secara berulang-ulang sehingga hafal
c. Metode
Tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini, metode tulisan adalah
mengkopikan karya-karya ulama.
2.3 Masa Kemunduran Dinasti Abbasiyah
di Bagdad
Sebagaimana dalam periodisasi
khalifah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua, namun demikian
factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba,
benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya khalifah pada saat
periode ini sangat kuat, benih-benih ini tidak sempat berkembang. Dalam sejarah
kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat, para mentri cenderung
berperan sebagai pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan
berkuasa mengatur roda pemerintahan. Disamping kelemahan khalifah, banyak
factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing factor
tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai
berikut:
2.3.1
Persaingan Antarbangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan
oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan
dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah
berkuasa. Keduanya sama- saama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri,
dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska,11
ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada
orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani
Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang
Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Meskipun
demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah
dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab
beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras)
istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Selain
itu, wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas, meliputi
berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki
dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu
tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut
dengan kuat. Akibatnya, disamping Fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme
bangsa bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah.
2.3.2
Kemerosotan Ekonomi
Khalifah Abbasiyyah juga
mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang
politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan
yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal
penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj,
semacam pajak hasil bumi. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran,
pendapatan Negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar.
Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah
kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat,
diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain
disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis
pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.
2.3.3
Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan berkaitan
erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak
sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan
ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Gerakan ini dikenal dengan
gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang
beriman harus diberantas, sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya, mulai
polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang
menumpahkan darah dari kedua belah pihak. Berkenaan dengan konflik keagamaan
itu, Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. seperti juga Agama Isa
as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan
pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam
suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih
besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai
hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas
manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa
rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi
sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.
2.3.4
Ancaman dari luar
Apa yang disebutkan di atas
adalah faktor-faktor internal. Disamping itu, ada pula factor-faktor eksternal
yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, perang
salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak
korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana
telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang
setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu
juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah
kekuasaan Islam. Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya
Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan
melibatkan diri dalam tentara Salib itu 10. Pengaruh Salib juga terlihat dalam
penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara
Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha
dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang
Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab.
Tentara Mongol, setelah menghancurleburkan pusat- pusat Islam, ikut memperbaiki
yerussalem. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah,
yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya, sekaligus juga
menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Bahkan kemerosotan
Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Ketika rezim ini
sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan, dan sedang mendorong
sebuah kemajuan ekonomi dan kultur, terjadi beberapa peristiwa yang pada
akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar