Rabu, 24 September 2014

DINASTI ABBASYIAH BAGHDAD



II.                  PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
            Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Dimana pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dam budaya. Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah.
Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abass. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1.      Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2.      Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh Turki pertama
3.      Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua
4.      Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua
5.      Periode Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
            Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. karena itu, pembina sebenarnya dari daulat Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M). Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekusaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir, karena tidak bersedia membaiatnya, dibunuh oleh Abu Muslim al- Khurasani atas perintah Abu Ja’far. Abu Muslim sendiri karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya, dihukum mati pada tahun 755 M 2. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al- Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Bagdad, dekat bekas ibu kota Persia, Clesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al- Manshur melakukan konsolidasi dan Penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan perananya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat.
            Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Diantara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oksus dan India. 

2.2 Masa Keemasan Dinasti Abbasyiah di Bagdad
            Pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, Arab Islam mencapai masa keemasannya. Kota Baghdad didirikan oleh khalifah Abbasiyah ke dua, al-Mansur pada tahun 145/762M, terletak di sisi barat sungai Tigris berdekatan dengan Mada’in, sebuah kota babilonia zaman kuno. Pada mulanya kota Baghdad oleh khalifah Abbasiyah ini dinamakan sebagai dar al-salam (kota perdamaian).Ia merupakan kota yang berbentuk melingkar, yang merupakan peninggalan dinasti sasaniyah, yang dilindungi dengan benteng-benteng tebal dengan empat buah pintu gerbang menuju empat penjuru utama yang menuju kea rah Basrah,Syria,Kufah dan Kharasan.
            Kota ini terletak pada jalur utama perhubungan Persia dan India, dan ia merupakan pusat peradabandan politik Islam diwilayah Barat. Keagungan kota ini sebagaimana tercermin dalam rangkaian kisah cerita “Seribu Satu Malam”, sebuah kisah legendaries bangsa Arab yang terwujud pada zaman keemasan Abbasiyah dalam pemerintahan Harun al-Rasyid.
            Kota Baghdad di kenal sebagai pusat peradaban dan kebangkitan Ilmu pengetahuan dalam Islam, merupakan kota Intelektual di antara kota-kota di dunia, Baghdad merupakan Profesor masyarakat Islam. Selama kota Baghdad di pimpin oleh khalifah al-Manshur, kota ini menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan Kebudayaan Islam banyak para ilmuawan dari berbagai daerah kekota ini untuk memahami ilmu pengetahuan yang ingin di tuntutnya. Berikut bukti-bukti masa keemasan Abbasyiah di Bagdad:
1.2.1        Ilmu Pengetahuan dan Sastra
                  Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat dihidupkan kembali dan di trejemakan ke dalam bahasa Arab. Khalifa al –Makmun memiliki Perpustakaan yang di penuhi oleh beribu-ribu buku ilmu pengetahuan, yang diberinama perpustakaan Bait al-Hikmah. Dan disamping itu, banyak berdiri akademik, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi kota ini, dua diantaranya adalah Perguruan Nizhamiyyah yang didirikan oleh Nizham al- Mustanshiririyah yang didirikan dua abad, kemudian oleh khalifah al- Mustanshir Billah.
                  Dalam bidang sastra, kota Baghdad terkenal dengan hasil karya yang indah dan digemari orang. Di kota Baghdad ini lahir dan muncul para saintis, ulama,filosof, dan sastrawan Islam yang terkenal,seperti:
a.       Zakaria al-Razi (865-925 M)
            Al-Razi terkenal dengan Razhes (bahasa latin). Beliau adalah ahli kedokteran klinis, dan penerus Ibn Hayyan dalam pengembangan ilmu kimia. Ia melakukan penelitian empiris dengan mengunakan peralatan yang lebih canggih disbanding dengan kegiatan ilmiah sebelumnya dan mencatat setiap perlakuan kimiawi dikenakannya terhadap bahan-bahan yang ditelitinya serta hasilnya.
b.      Al-Farabi (870-950 M)
            Al-Farabi dikenal di Barat dengan sebutan Alpharabius. Dia adalah filosof yang juga ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, Al-Farabi menulis kitab al-Musiqa. Kitab-kitab yang ditulisnya begitu banyakdan sebagian masih dapat dibaca hingga sekarang ini.
c.       Al-Biruni (973-1048 M)
            Al-Biruni adalah Ibnu Raian Muhammad al-Biruni. Ia tinggal di istana Mahmud di Gazni (Afganistan). Akbar S.Ahmed menjulukinya dengan gelar Ahli Antropologi pertama (Bapak Antropologi). Argumentasinya karena ia adalah seorang observer partisipan yang luas tentang masyarakat “asing” dan berupaya mempelajari naskah primer dan pembahasannya. Di samping sebagai antropolog, al-Biruni juga ahli matematika, astronomi dan sejarah.
d.      Ibnu Sina (980-1037 M)
            Nama latin Ibn Sina adalah Avicanna, beliau adalah ahli ilmu kedokteran dan filsafat. Karya besarnya dalam bidang kedokteran adalah al-Qanun fi al-Thib. Buku ini selama lima abad menjadi buku pegangan di universitas-universitas di Eropa. Selain itu, beliau juga memiliki karya iliah pada bidang logika, matematika, astronomi, fisika, mineralogy, ekonomi,dan politik.
e.       Umar Khayam (1038-1148 M)
            Umar Kahyam adalah ahli astronomi, kedokteran, fisika, dan sebagian besar karyanya dalam bidang matematika. Akan tetapi, beliau lebih dikenal sebagai penyair dan sufi. Beliau adalah penemu koefesien-koefesien binomial dan memecahkan persamaan-persamaan kubus.
                  Kota Bghdad yang terletak ditepi barat sungai Tigris itu muncul sebagai kota yang terindah dan termegah di dunia pada waktu itu. Kota yang memperlihatkan pemandangan yang elok mempersona, yang sebelumnya di hancurkan oleh Tentara mongol. Semua kemegahan,keindahan, dan kehebatan kota Baghdad yang di bangun pertama kali oleh khalifah al-manshur itu sekarang hanya tinggal kenangan. Semuanya seolah-olah hanyut di bawa arus sungai Tigris, setelah kota ini dibumi aguskan oleh tentara mongol dibawah pimpinan Hulagukhan. Semua bangunan kota, termasuk istana emas tersebut di hancurkan. Pasukan mongol juga meruntuhkan Perpustakaan yang merupakan gudang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat di dalamnya.

2.2.2        Metode Pendidikan dan Pengajaran
                  Ada beberapa faktor yang menjadikan zaman Abbasiyah menjadikannya zaman keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan, diantaranya:
a.       Perhatian pemerintah yang besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan
b.      Strategi kebudayaan rasionalisme (kebebasan berpikir) di kalangan umat Islam
c.       Kemakmuran dan ekonomi yang baik
d.      Stabilitas politik
e.       Motivasi ajaran agama Islam
f.       Pandangan yang tepat terhadap ilmu pengetahuan
                  Selain itu, dalam proses belajar mengajar metode pendidikan/pengajaran merupakan salah satu aspek pendidikan yang sangat penting guna mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan dari seorang guru terhadap siswanya. Pada masa Abbasiyah ini metode yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu: lisan, hafalan dan tulisan.
a.       Metode Lisan berupa dikte, seramah, qira’ah dan diskusi. Metode dikte dianggap pentingdan aman karena pada masa klasik buku-buku dicetak tidak seperti sekarang
b.      Metode menghafal merupakan ciri umum pendidikan pada masa ini. Murid-murid harus membaca secara berulang-ulang sehingga hafal
c.       Metode Tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini, metode tulisan adalah mengkopikan karya-karya ulama. 

2.3 Masa Kemunduran Dinasti Abbasiyah di Bagdad
            Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua, namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba, benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat, benih-benih ini tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat, para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Disamping kelemahan khalifah, banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
2.3.1 Persaingan Antarbangsa
                 Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama- saama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska,11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping Fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah.
2.3.2 Kemerosotan Ekonomi
                 Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan Negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.
2.3.3 Konflik Keagamaan
                 Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas, sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya, mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. seperti juga Agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.
2.3.4 Ancaman dari luar
                 Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Disamping itu, ada pula factor-faktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu 10. Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancurleburkan pusat- pusat Islam, ikut memperbaiki yerussalem. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah, yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya, sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan, dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur, terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar